1. Dewa Ares
Dengan nafsu untuk menghancurkan secara bengis dan kejam pada legendanya, merupakan cerminan sifat manusia yang paling buruk. Ia menjelajahi bumi menebar kehancuran dan kekejaman hingga nyanyian ratapan korbannya membahana di langit. Dalam perang Troya, dengan kekuatannya ia membantu prajurit Troya, Hector. Tapi Ares bukanlah pahlawan, ia tidak lebih merupakan pengecut yang lari dari medan laga saat terluka. Bahkan tangisnya terdengar di Gunung Olympia.
Kini, berabad-abad setelah kejatuhan Troya, Ares masih menebarkan bayang-bayangnya diseluruh dunia. Nafsunya akan kehancuran dan kepedihan bergema di sepanjang zaman.
2. Dewa Hephaestus
Di atas gunung Olympia, semua dewa lain berparas tampan. Kecuali Hephaestus yang digambarkan buruk rupa. Menurut legenda, karena ada perselisihan, Zeus melemparkan Hephaestus ke bumi dan membuat kakinya menjadi pincang selamanya. Apapun kekurangan yang ada dalam dirinya, ditutupi Hephaestus dengan kekuatan yang luar biasa. Dan meski ia cacat, atau mungkin justru karena itu ia ahli menciptakan objek-objek yang sangat indah. Dari bengkel kerjanya jauh di dalam bumi, penguasa api dan tempaan ini menciptakan istana, makam dan baju dewa-dewi, seperti: halilintar Zeus dan baju baja Athena.
Dalam perang Troya, ia juga menciptakan baju baja baru bagi Achilles. Tapi pengabdian sebenarnya tidak terwujud dalam perang tapi perdamaian, sebab ia juga dewa pelindung bagi seniman dan pengrajin. Hephaetus yang baik hati telah melimpahkan keindahan dan keahliannya pada umat manusia. Watak lemah lembutnya nampak dalam detil desain artistik dan pertasi manusia yang besar terhadap seni.
3. Dewa Dionysus
satu-satunya dewa yang memiliki orang tua manusia adalah Dionysus. Anugerah ajaibnya, air suling buah anggur adalah pembawa kegembiraan maupun penyebab kegilaan. Ciptaannya yang memabukkan itu bisa membuat heboh peminumnya dan juga menyulut kekacauan akibat mabuk.
Pada masa kuno, pemujanya berkumpul di hutan dan menari untuk menghormatinya dan minum hingga mabuk. Prajurit Troya ingin terbebas dari kegelisahan dengan ramuan mujarabnya. Sungguh, itulah kenyataannya sepanjang zaman sampai saat ini.
Tapi Dionysus juga dikenal sebagai dewa teater dan beberapa puisi kuno terbesar dipersembahkan baginya. Dan semua yang terlibat, mulai dari penulis, aktor dan penyanyi, dianggap sebagai pelanyannya.
Jadi lain kali kalau anda minum anggur, bersulanglah untuk Dionysus. Tapi ingatlah garis tipis antara BERKAT dan KEHANCURAN yang terdapat dalam kenikmatan anggur tersebut.
4. Dewi Demeter
Demeter, Dewi Pertanian dan Kesuburan dianggap yang pertama mengajar manusia menggarap tanah dan memanen. Diberkahi kuasa mendatangkan kemakmuran dan kelaparan bagi manusia. Dikisahkan ia mempunyai kemampuan mengontrol musim dan merubah permukaan alam. Kini, lahan pertanian tumbuh subur di atas tanah dimana dipercaya perang Troya terjadi. Mungkin bukti kekuasaan Demeter untuk melahirkan kehidupan baru bahkan dibekas daerah perang legendaris dimana terjadinya pertempuran yang gagah berani.
5. Dewa Poseidon
Dengan air lebih dari 70 persen menutupi permukaan bumi adalah wajar apabila ditunjuk seorang dewa yang bertugas mengatur laut dan semua keajaibannya. Poseidon-lah yang bertugas untuk itu. Seperti laut yang temperamental, ia mengatur daerah kekuasaannya jauh dibawah permukaannya. Selama perang, Poseidon memihak Yunani, kaum pelaut. Tapi saat berlayar pulang, karena sombong atas kemenangan mereka, Poseidon menurunkan badai dan memporak-porandakan armada mereka.
Apakah melalui hembusan angin lembut maupun ombak ganas, Poseidon dengan trisula ditangan masih berbicara pada kita saat ini, sebuah kekuatan yang sama abadinya dengan gelombang pasang.
6. Dewa Zeus
Dari tahtanya di Gunung Olympia, Zeus mengatur dewa dan manusia dan menjaga alam semesta agar tetap tertib dan adil. Dengan senjata petir ditangannya, senjata yang paling ditakuti dibumi dan dikahyangan. Saat Troya genting, dewa-dewa lain memilih pahlawannya diantara prajurit tapi Zeus menolah berpihak. Ia menggunakan timbangan emasnya untuk menyeimbangkan takdir pahlawan-pahlawan Troya.
Dewa segala dewa ini sama sekali bukan teladan kebajikan. Suami yang paling tidak setia, mengejar dewi-dewi, meninggalkan jejak kecurangan, kesedihan dan kekerasan di masa lampau.
Dari perayaan internasional Olimpiade, kuil yang menakjubkan dan monumen untuk menghormatinya, legenda Zeus tetap kuat sebagaimana dewa itu sendiri.
7. Dewi Hera
Sebagai saudari sekaligus istri Zeus, Hera adalah ratu dikahyangan dan menjadi sumber keirian dan kecemburuan bagi dewi lain di Gunung Olympia. Dia cantik dan juga licik. Hera adalah pelindung yang waspada bagi wanita yang sudah menikah karena ia sangat mengerti kepedihan pahit akibat ketidaksetiaan. Dan meskipun ia sangat sopan, ia sering mendendam pada mereka yang menghalangi niatnya. Karena Paris memutuskan dewi Aphrodite lebih cantik darinya, ia menjadi musuh besar bagi Troya yang tanpa ampun menggunakan kekuatannya bagi prajurit Yunani hingga Troya luluh lantak.
Legenda Hera mengungkapkan arti pepatah: “Amarah neraka tak seberapa panas dibandingkan amarah wanita yang terhina”.
8. Dewa Hermes
Hermes adalah dewa yang selalu bergerak. Terompah bersayap dengan tongkat perlindungan ditangannya, ia paling dikenal sebagai utusan Zeus dan pelindung para pengelana. Sesuai dengan itu, ia juga dewa pencuri dan perniagaan. Dikisahkan pada masa kecilnya ia mencuri kawanan ternak Apollo kemudian membuat harpa dari rumah kura-kura sebagai permohonan maafnya. Dikisahkan ia menolong Odysseus saat pulang dari Troya, dan sejak itu ia dihargai sebagai penolong para pengelana. Terkenal karena kekuatan fisiknya, ia juga dikenal sebagai pencipta olahraga balap lari karena ia selalu berlari cepat untuk menyampaikan pesan para dewa.
Sebagai pembawa keberuntungan dan kemakmuran, Hermes lebih sering muncul dalam mitos dibandingkan dewa-dewa lain sehingga membuatnya paling disukai selain dewa lain di Gunung Olympia.
9. Dewi Athena
Athena, dewi kerajinan tangan, keterampilan rumah tangga dan perang. Sebagai dewi perang ia membanggakan kepandaian dewatanya dan kekuatannya yang luar biasa. Menurut legenda, ia muncul dalam keadaan dewasa lengkap dengan baju baja, sebagai anak Zeus. Dari semua anaknya, Zeus memilih Athena sebagai pembawa tameng dan halilintar. Musuh yang dhsyat bagi Troya, ia berperang di pihak prajurit Yunani dan dikisahkan ia berduka atas kematian Achilles. Tapi saat Troya jatuh dan Yunani mencemari kuilnya, ia menuntut balas. Dia meminta Poseidon menurunkan badai yang mengacaukan pulangnya kapal-kapal Yunani.
Penuh keberanian di medan perang, ia juga paham nilai utama perdamaian dan dikenal sebagai pelindung dan keterampilan dalam rumah tangga. Tak seperti lainnya yang lebih suka menyebut alam sebagai rumahnya, Athena sangat menyukai kota. Kota favoritnya adalah Athena, seperti namanya, dan dimana kuilnya, Parthenon, masih berdiri sebagai salah satu keajaiban dunia.
10. Dewi Artemis
Artemis, Dewi berburu. Sama liarnya dengan alam itu sendiri. Merupakan dewi suci bagi pemburu dan pelindung kaum muda yang dengan tenang mengatur tempat-tempat bumi yang liar. Saudari kembar Apollo ini terampil dalam memanah melebihi semua dewa di Gunung Olympia. Ia selalu membawa busur perak dan anak panahnya. Ia memihak Troya saat perang berlangsung. Ia turunkan angin utara yang dahsyat yang menghambat mereka untuk berlayar ke Troya. Baru setelah Yunani mengorbankan putri sulung Agamemnon bagi Artemis angin tersebut mereda.
Kini peninggalan Artemis terlihat pada wanita yang menentang tradisi dan menjalani hidup yang lebih individual dan bebas. Secara samar diceritakan, bahwa ia masih berdiam di hutan.
11. Dewa Apollo
Apollo, Dewa nubuatan, musik dan penyembuhan, memberikan kebijaksanaan sebagai perantara antara dewa dan manusia. Dengan kepandaian yang tinggi, bagai anak panah yang lepas dari busurnya, dikisahkan dia adaalah dewa pertama yang mengajar manusia seni pengobatan dan penyembuhan termasuk lewat musik. Ia dianggap membantu manusia mencapai potensi sepenuhnya dengan anugerah pencerahannya. Selama perang Troya, dipercaya bahwa Apollo berpihak dan menolong prajurit Hector di medan laga. Saat genting, ia lepaskan anak panah berapi ke orang-orang Yunani dari kereta perangnya di langit.
Berabad-abad kemudian, ketika manusia menjelajahi angkasa dengan tepat mereka menamakan misi ke bulan: Apollo, nama dewa yang mengilhami manusia untuk mencapai angkasa.
12. Dewi Aphrodite
Aphrodite, dewi asmara dan kecantikan. Aphrodite yang sangat menarik, menggoda dewa dan manusia dengan kecantikannya yang menghipnotis. Ada yang mengatakan ia anak Zeus. Kisah lain, ia bangkit dari gelombang samudera terbentuk secara sempurna dan luar biasa menarik. Kecantikannya begitu mendebarkan dan membuat iri semua dewi lain di Gunung olympia. Dikisah Paris menentukan ia sebagai yang tercantik diantara semua dewi dan menghadiahkan padanya apel emas. Sebagai balasannya, Aphrodite memberikan Helen, wanita tercantik dibumi. Tapi tindakannya membangkitkan amarah Menelaus, Raja Sparta. Itulah penyebab terjadinya Perang Troya.
Aphrodite berpihak pada Troya dan setelah kekalahan mereka, dengan kekuatannya ia melindungi Aeneas, parajurit Troya. Dengan tawanya yang memikat dan kecantikan yang tak tertandingi ia bisa merayu dewa atau manusia manapun yang begitu ia dambakan. Dan dalam cinta segitiga, ia nikahi Hephaestus, dewa Gunung Olympia yang paling bersahaja. Sementara ia terus berselingkuh dengan Ares, dewa yang paling brutal.
Aphrodite: sensual, misterius, perayu yang berbahaya ini telah salah satu sifat mendasar dari wanita sepanjang zaman.
Sabtu, 06 Agustus 2011
Senin, 01 Agustus 2011
Aswaja adalah postulat dari ungkapan Rasulullah saw.,“Ma> ana ‘alaihi wa
as}h}a>bi”. Berarti, golongan aswaja adalah golongan yang mengikuti ajaran Islam
sebagaimana diajarkan dan diamalkan Rasulullah beserta sahabatnya.
Aswaja (Ahlussunah wa al-jama>’ah) adalah satu di antara banyak aliran
dan sekte yang bermuculan dalam tubuh Islam. Di antara semua aliran, kiranya
aswajalah yang punya banyak pengikut, bahkan paling banyak di antara semua
sekte. Hingga dapat dikatakan, Aswaja memegang peran sentral dalam
perkembangan pemikiran keIslaman.
Aswaja tidak muncul dari ruang hampa. Ada banyak hal yang
mempengaruhi proses kelahirannya dari rahim sejarah. Di antaranya yang cukup
populer adalah tingginya suhu konstelasi politik yang terjadi pada masa pasca
Nabi wafat .
Kematian Utsman bin Affan, khalifah ke-3, menyulut berbagai reaksi.
Utamanya, karena ia terbunuh, tidak dalam peperangan. Hal ini memantik
semangat banyak kalangan untuk menuntut Imam Ali, pengganti Utsman untuk
bertanggung jawab. Terlebih, sang pembunuh, yang ternyata masih berhubungan
darah dengan Ali, tidak segera mendapat hukuman setimpal.
Muawiyah bin Abu Sofyan, Aisyah, dan Abdulah bin Thalhah, serta Amr
bin Ash adalah beberapa di antara sekian banyak sahabat yang getol menuntut
Ali. Bahkan, semuanya harus menghadapi Ali dalam sejumlah peperangan yang
kesemuanya dimenangkan pihak Ali.
Dan yang paling mengejutkan, adalah strategi Amr bin Ash dalam perang
Shiffin di tepi sungai Eufrat, akhir tahun 39 H, dengan mengangkat mushaf di
atas tombak. Tindakan ini dilakukan setelah pasukan Amr dan Muawiyah
terdesak. Tujuannya, hendak mengembalikan segala perselisihan kepada hukum
Allah. Dan Ali setuju, meski banyak pengikutnya yang tidak puas.
Akhirnya, tah}kim (arbritase) di Daumatul Jandal, sebuah desa di tepi Laut
Merah beberapa puluh km utara Makkah, menjadi akar perpecahan pendukung
Ali menjadi Khawarij dan Syi’ah. Kian lengkaplah perseteruan yang terjadi
antara kelompok Ali, kelompok Khawarij, kelompok Muawiyah, dan sisa-sisa
pengikut Aisyah dan Abdullah ibn Thalhah.
Ternyata, perseteruan politik ini membawa efek yang cukup besar dalam
ajaran Islam. Hal ini terjadi tatkala banyak kalangan menunggangi teks-teks
untuk kepentingan politis. Celakanya, kepentingan ini begitu jelas terbaca oleh
publik, terlebih masa Yazid bin Muawiyah.Yazid, waktu itu, mencoreng muka dinasti Umaiyah. Dengan sengaja, ia
memerintahkan pembantaian Husein bin Ali beserta 70-an anggota keluarganya
di Karbala, dekat kota Kufah, Iraq. Parahnya lagi, kepala Husein dipenggal dan
diarak menuju Damaskus, pusat pemerintahan dinasti Umaiyah.
Bagaimanapun juga, Husein adalah cucu Nabi yang dicintai umat Islam.
Karenanya, kemarahan umat tak terbendung. Kekecewaan ini begitu menggejala
dan mengancam stabilitas Dinasti. Akhirnya, dinasti Umaiyah merestui hadirnya
paham Jabariyah. Ajaran Jabariyah menyatakan bahwa manusia tidak punya
kekuasaan sama sekali. Manusia tunduk pada takdir yang telah digariskan Tuhan,
tanpa bisa merubah. Opini ini ditujukan untuk menyatakan bahwa pembantaian
itu memang telah digariskan Tuhan tanpa bisa dicegah oleh siapapun jua.
Beberapa kalangan yang menolak opini itu akhirnya membentuk second
opinion (opini rivalis) dengan mengelompokkan diri ke sekte Qadariyah.
Jelasnya, paham ini menjadi anti tesis bagi paham Jabariyah. Qadariyah
menyatakan bahwa manusia punya free will (kemampuan) untuk melakukan
segalanya. Dan Tuhan hanya menjadi penonton dan hakim di akhirat kelak.
Karenanya, pembantaian itu adalah murni kesalahan manusia yang karenanya
harus dipertanggungjawabkan, di dunia dan akhirat.
Melihat sedemikian kacaunya bahasan teologi dan politik, ada kalangan
umat Islam yang enggan dan jenuh dengan semuanya. Mereka ini tidak sendiri karena ternyata, mayoritas umat Islam mengalami hal yang sama. Karena tidak
mau terlarut dalam perdebatan yang tak berkesudahan, mereka menarik diri dari
perdebatan. Mereka memasrahkan semua urusan dan perilaku manusia pada
Tuhan di akhirat kelak. Mereka menamakan diri Murji’ah.
Lambat laun, kelompok ini mendapatkan sambutan yang luar biasa.
Terlebih karena pandangannya yang apriori terhadap dunia politik. Karenanya,
pihak kerajaan membiarkan ajaran semacam ini, hingga akhirnya menjadi
sedemikian besar. Di antara para sahabat yang turut dalam kelompok ini adalah
Abu Hurayrah, Abu Bakrah, Abdullah Ibn Umar, dan sebagainya. Mereka adalah
sahabat yang punya banyak pengaruh di daerahnya masing-masing.
Pada tataran selanjutnya, dapatlah dikatakan bahwa Murjiah adalah cikal
bakal Sunni (proto sunni). Karena banyaknya umat Islam yang juga merasakan
hal senada, maka mereka mulai mengelompokkan diri ke dalam suatu kelompok
tersendiri.
Lantas, melihat parahnya polarisasi yang ada di kalangan umat Islam,
akhirnya ulama mempopulerkan beberapa hadits yang mendorong umat Islam
untuk bersatu. Tercatat ada 3 hadits-dua diriwayatkan oleh Imam Turmudzi dan
satu oleh Imam Tabrani-. Dalam hadits ini diceritakan bahwa umat Yahudi akan
terpecah ke dalam 71 golongan, Nasrani menjadi 72 golongan, dan Islam dalam
73 golongan. Semua golongan umat Islam itu masuk neraka kecuali satu. "Siapa mereka itu, Rasul?" tanya sahabat. "Ma> ana ‘Alaihi wa As}h}a>bi>," jawab Rasul.
Bahkan dalam hadist riwayat Thabrani, secara eksplisit dinyatakan bahwa
golongan itu adalah Ahlussunah wa al-jama>’ah.
Ungkapan Nabi itu lantas menjadi aksioma umum. Sejak saat itulah kata
aswaja atau Sunni menjadi sedemikian populer di kalangan umat Islam. Bila
sudah demikian, bisa dipastikan, tak akan ada penganut Aswaja yang berani
mempersoalkan sebutan, serta hadits yang digunakan justifikasi kendati banyak
terdapat kerancuan di dalamnya. Karena jika diperhatikan lebih lanjut, hadits itu
bertentangan dengan beberapa ayat tentang kemanusiaan Muhammad, bukan
peramal.
as}h}a>bi”. Berarti, golongan aswaja adalah golongan yang mengikuti ajaran Islam
sebagaimana diajarkan dan diamalkan Rasulullah beserta sahabatnya.
Aswaja (Ahlussunah wa al-jama>’ah) adalah satu di antara banyak aliran
dan sekte yang bermuculan dalam tubuh Islam. Di antara semua aliran, kiranya
aswajalah yang punya banyak pengikut, bahkan paling banyak di antara semua
sekte. Hingga dapat dikatakan, Aswaja memegang peran sentral dalam
perkembangan pemikiran keIslaman.
Aswaja tidak muncul dari ruang hampa. Ada banyak hal yang
mempengaruhi proses kelahirannya dari rahim sejarah. Di antaranya yang cukup
populer adalah tingginya suhu konstelasi politik yang terjadi pada masa pasca
Nabi wafat .
Kematian Utsman bin Affan, khalifah ke-3, menyulut berbagai reaksi.
Utamanya, karena ia terbunuh, tidak dalam peperangan. Hal ini memantik
semangat banyak kalangan untuk menuntut Imam Ali, pengganti Utsman untuk
bertanggung jawab. Terlebih, sang pembunuh, yang ternyata masih berhubungan
darah dengan Ali, tidak segera mendapat hukuman setimpal.
Muawiyah bin Abu Sofyan, Aisyah, dan Abdulah bin Thalhah, serta Amr
bin Ash adalah beberapa di antara sekian banyak sahabat yang getol menuntut
Ali. Bahkan, semuanya harus menghadapi Ali dalam sejumlah peperangan yang
kesemuanya dimenangkan pihak Ali.
Dan yang paling mengejutkan, adalah strategi Amr bin Ash dalam perang
Shiffin di tepi sungai Eufrat, akhir tahun 39 H, dengan mengangkat mushaf di
atas tombak. Tindakan ini dilakukan setelah pasukan Amr dan Muawiyah
terdesak. Tujuannya, hendak mengembalikan segala perselisihan kepada hukum
Allah. Dan Ali setuju, meski banyak pengikutnya yang tidak puas.
Akhirnya, tah}kim (arbritase) di Daumatul Jandal, sebuah desa di tepi Laut
Merah beberapa puluh km utara Makkah, menjadi akar perpecahan pendukung
Ali menjadi Khawarij dan Syi’ah. Kian lengkaplah perseteruan yang terjadi
antara kelompok Ali, kelompok Khawarij, kelompok Muawiyah, dan sisa-sisa
pengikut Aisyah dan Abdullah ibn Thalhah.
Ternyata, perseteruan politik ini membawa efek yang cukup besar dalam
ajaran Islam. Hal ini terjadi tatkala banyak kalangan menunggangi teks-teks
untuk kepentingan politis. Celakanya, kepentingan ini begitu jelas terbaca oleh
publik, terlebih masa Yazid bin Muawiyah.Yazid, waktu itu, mencoreng muka dinasti Umaiyah. Dengan sengaja, ia
memerintahkan pembantaian Husein bin Ali beserta 70-an anggota keluarganya
di Karbala, dekat kota Kufah, Iraq. Parahnya lagi, kepala Husein dipenggal dan
diarak menuju Damaskus, pusat pemerintahan dinasti Umaiyah.
Bagaimanapun juga, Husein adalah cucu Nabi yang dicintai umat Islam.
Karenanya, kemarahan umat tak terbendung. Kekecewaan ini begitu menggejala
dan mengancam stabilitas Dinasti. Akhirnya, dinasti Umaiyah merestui hadirnya
paham Jabariyah. Ajaran Jabariyah menyatakan bahwa manusia tidak punya
kekuasaan sama sekali. Manusia tunduk pada takdir yang telah digariskan Tuhan,
tanpa bisa merubah. Opini ini ditujukan untuk menyatakan bahwa pembantaian
itu memang telah digariskan Tuhan tanpa bisa dicegah oleh siapapun jua.
Beberapa kalangan yang menolak opini itu akhirnya membentuk second
opinion (opini rivalis) dengan mengelompokkan diri ke sekte Qadariyah.
Jelasnya, paham ini menjadi anti tesis bagi paham Jabariyah. Qadariyah
menyatakan bahwa manusia punya free will (kemampuan) untuk melakukan
segalanya. Dan Tuhan hanya menjadi penonton dan hakim di akhirat kelak.
Karenanya, pembantaian itu adalah murni kesalahan manusia yang karenanya
harus dipertanggungjawabkan, di dunia dan akhirat.
Melihat sedemikian kacaunya bahasan teologi dan politik, ada kalangan
umat Islam yang enggan dan jenuh dengan semuanya. Mereka ini tidak sendiri karena ternyata, mayoritas umat Islam mengalami hal yang sama. Karena tidak
mau terlarut dalam perdebatan yang tak berkesudahan, mereka menarik diri dari
perdebatan. Mereka memasrahkan semua urusan dan perilaku manusia pada
Tuhan di akhirat kelak. Mereka menamakan diri Murji’ah.
Lambat laun, kelompok ini mendapatkan sambutan yang luar biasa.
Terlebih karena pandangannya yang apriori terhadap dunia politik. Karenanya,
pihak kerajaan membiarkan ajaran semacam ini, hingga akhirnya menjadi
sedemikian besar. Di antara para sahabat yang turut dalam kelompok ini adalah
Abu Hurayrah, Abu Bakrah, Abdullah Ibn Umar, dan sebagainya. Mereka adalah
sahabat yang punya banyak pengaruh di daerahnya masing-masing.
Pada tataran selanjutnya, dapatlah dikatakan bahwa Murjiah adalah cikal
bakal Sunni (proto sunni). Karena banyaknya umat Islam yang juga merasakan
hal senada, maka mereka mulai mengelompokkan diri ke dalam suatu kelompok
tersendiri.
Lantas, melihat parahnya polarisasi yang ada di kalangan umat Islam,
akhirnya ulama mempopulerkan beberapa hadits yang mendorong umat Islam
untuk bersatu. Tercatat ada 3 hadits-dua diriwayatkan oleh Imam Turmudzi dan
satu oleh Imam Tabrani-. Dalam hadits ini diceritakan bahwa umat Yahudi akan
terpecah ke dalam 71 golongan, Nasrani menjadi 72 golongan, dan Islam dalam
73 golongan. Semua golongan umat Islam itu masuk neraka kecuali satu. "Siapa mereka itu, Rasul?" tanya sahabat. "Ma> ana ‘Alaihi wa As}h}a>bi>," jawab Rasul.
Bahkan dalam hadist riwayat Thabrani, secara eksplisit dinyatakan bahwa
golongan itu adalah Ahlussunah wa al-jama>’ah.
Ungkapan Nabi itu lantas menjadi aksioma umum. Sejak saat itulah kata
aswaja atau Sunni menjadi sedemikian populer di kalangan umat Islam. Bila
sudah demikian, bisa dipastikan, tak akan ada penganut Aswaja yang berani
mempersoalkan sebutan, serta hadits yang digunakan justifikasi kendati banyak
terdapat kerancuan di dalamnya. Karena jika diperhatikan lebih lanjut, hadits itu
bertentangan dengan beberapa ayat tentang kemanusiaan Muhammad, bukan
peramal.
Langganan:
Postingan (Atom)
You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "
